188max slot online terpercaya, sekalian menanti ayah dan ibu setiap jemput dari rumah. Masih berbalut seragam merah-putih, ke-4 dari kami lari dan bersembunyi, dibalik pohon, pintu kelas, dan gerbang pura. Sesudah sesaat, satu dari kami jemu dan menyarankan untuk bertukar permainan.

situs judi 188maxbet slot terbesar. Kami merusak diri jadi dua regu, satu regu 2 orang. Melalui hompimpa saya dan seorang anak lelaki namanya Putu terpasangkan. Tidak berapakah lama, Putu mengerutkan dahi.

188max slot online terpercaya, jarinya menunjuk muka saya. Dengan suara melengking seorang bocah yang jauh dari dewasa, dia melemparkan salah satunya kalimat paling jujur yang pernah saya dengar di dunia:

situs judi 188maxbet slot terbesar. Ah, beberapa anak, begitu jujurnya memandang siapakah yang elok dan siapakah yang tidak elok. Sesungguhnya bukan kali hanya itu beberapa orang menunjukkan jika saya bukan anak yang elok, bukan anak yang akan tumbuh jadi elok. Langkah mereka mengungkapkan hal tersebut juga bermacam: dari yang perhatian (“Mbak, tidak boleh panas-panasan, kelak lebih poin! “), 1/2 bergurau (“Kok kurus sekali sich, seperti pengungsi kurang gizi… “), bahkan juga sanjungan (“Jika Adik, elok. Jika Mbak, rajin! “)

Tetapi ada periodenya di mana saya pernah demikian mengharap dapat punyai performa yang lain. Saya berdoa — selaku anak kecil yang belum mengetahui apa-apa — mudah-mudahan di surga kelak saya diberi rambut yang lebih lempeng, kulit yang lebih putih, dan tubuh yang prima.

Selanjutnya saya belajar jika sebagian besar wanita yang saya mengenal pernah rasakan kecemasan yang serupa mengenai performa mereka. Beberapa dari kita, sampai saat ini, masih merasainya.

Bicara mengenai kecantikan memang memusingkan. Di satu segi, kita kerap dengar bermacam saran yang menentramkan: jika kita tidak perlu mencemaskan performa, sebab pada intinya, kata mereka, “Semua wanita itu elok.”

“Jika kamu punyai harapan dan usaha gigih merealisasikannya, kamu elok. Sebab elok itu sikap, bukan berapa mulus atau putih mukamu.”