Surat pendek ini menyengaja kutuliskan untukmu selaku bahan refleksi atas masa lampau. Juga supaya kamu dapat maafkan semua kekeliruan yang pernah dibikin oleh raga ini. Kita ini ialah manusia, cukup lumrah rasanya bila satu-dua kali salah pernah terbentuk. Kamu pasti tahu malah berikut kebun kita untuk belajar. Sekalian pelecut agar kita tabah memandang hari esok dengan gagah berani.

Kita pernah melakukan perbuatan salah. Kita pernah sakiti mereka yang mengasihi kita, tutup pintu untuk kasih ikhlas mereka. Sampai saat ini, tindakan itu masih tinggalkan rasa pahit di lidah dan rasa bersalah. Walau seseorang telah maafkan, diri ini masih usaha merelakan.

Maukah kamu belajar lebih keras untuk maafkan kekeliruan lalu yang sudah kamu lakukan? Supaya hati ini kembali mempunyai ruangan lega dan siap untuk berusaha.

Entahlah telah berapakah kekeliruan yang pernah kamu cipta semenjak pertamanya kali kamu menginjak dunia. Ya, wujud kekeliruan yang menyengaja atau tidak menyengaja kamu kerjakan tentu ada beberapa banyaknya. Saya memahami jika sebenar-benarnya manusia tentu lumrah jika kita pernah lakukan salah. Tetapi, maukah kamu sekali ini merenungi kealpaanmu lebih dalam? Kekeliruan yang kemungkinan tanpa diakui sukses menggurat cedera di hati sendiri atau hati punya manusia yang lain.

Telah berapakah umurmu saat membaca surat ini? Ah, saya tahu, tentu saat sedang mencapai kepala dua. Pas sekali rasanya surat ini kamu baca saat ini. Umurmu sekarang ini ialah periode di mana kamu sedang gaungr-gemarnya menyerah pada ego. Masih berjiwa muda dan haus rintangan kamu buat jadi argumen hingga biasanya berasa paling betul dan malas buka telinga pada pengucapan orangtua. Apa kamu berasa apa yang kamu kerjakan itu ialah perlakuan yang betul? Apa kamu pernah menempatkan diri selaku orang-tua yang perkataannya kerap kamu mengenai juga malas kamu dengar?