Author: Nicholas Hopkins (page 2 of 6)

Kenapa Kamu Harus Mulai Berhenti Membenci Orang Lain dari Sekarang

Kita memang tidak dapat terlepas dari hubungan sosial. Sayang, tidak semua hubungan itu berjalan membahagiakan. Terkadang, jalinan sama orang lain membuat kita geram dan sakit hati. Seringkali, pada akhirnya kita akan mempertaruhkan jalinan itu dengan membenci.

Memang lumrah untuk membenci mereka yang pernah sakiti hati kita. Tetapi, maafkan mereka ialah opsi yang selalu kita punyai. Lebih kembali, kita tidak dapat selalu menghindar mereka yang pernah sakiti hati kita.

Hidup juga tidak semestinya habis cuman untuk pikirkan mereka yang membuat hidup kita sulit. Bila kamu masih perlu diyakinkan, berikut enam argumen kenapa kamu harus mulai stop membenci seseorang dari saat ini.

Sadar atau mungkin tidak, membenci seorang itu memerlukan energi yang serupa dengan menyukai. Untuk selalu pikirkan orang yang kita tidak suka itu nyaris setiap waktu, diperlukan loyalitas yang cukup banyak. Untuk berdoa supaya Tuhan menerpakan suatu hal yang jelek kepadanya, diperlukan semangat negatif yang menyala-nyala. Setiap kamu berjumpa dengannya, kamu perlu mengendalikan diri tidak untuk gelisah atau menyumpah-nyumpah. Lumrah bila membenci seorang membuat kita berasa capek.

Jika kamu membenci rekan sekelasmu, pasti kamu tidak ingin kan dikelas cuman repot mencemooh dan bersungut-sungut mengenai orang itu sampai kamu lupa memerhatikan dosen? Ada banyak poin utama yang penting dituntaskan dibanding kamu habiskan energimu buat pikirkan hal yang tidak memberikan keuntungan buatmu.

Berapa banyak saat yang kamu pakai untuk mengulas orang yang kamu tidak suka ke orang orang yang ada didekatmu? Bercerita begitu jahatnya ia dan tindakannya yang tidak membahagiakan hati. Setiap kamu dan rekan temanmu makan bersama, kamu akan kerap bercerita mengenai begitu menjengkelkan waktu kamu harus berpapasan sama orang yang kamu tidak suka.

Matamu tertutup oleh kedengkian pada seorang, jadi tidak dapat menyaksikan dunia yang luas | Foto by Tiko Giorgadze lewat unsplash.com

Untukmu Para Pencari Pekerjaan Pertama, Ada Salam dari Nasib Baik di Depan Sana!

Dapat kenakan jubah toga dan topi sarjana sesudah beberapa bulan bergelut dengan pekerjaan akhir memang argumen yang resmi untuk bahagia. Tetapi kamu jangan meleng, karenanya hanya awalnya dari perjuangan yang sesungguhnya: perjuangan cari pekerjaan pertama.

Perjuangan ini terang bukan jalan bebas kendala. Malah banyak kerikil yang akan kamu jumpai sepanjang perjalanan. Dari untung-untungan mendapati lamaran yang prospektif sampai belajar sabar waktu kantor mimpi tidak juga memberi berita, kamu akan pahami jika cari rodi untuk sesuap nasi tidak cuma masalah memotretkopi dan melontarkan CV.

Benar-benar lumrah bila sampai saat ini kamu belum mendapati “tempat bertambat” yang tepat. Tetapi bukan bermakna kamu harus berasa pengetahuan yang telah kamu timba tidak bermanfaat. Bukan bermakna juga kamu dapat enak-enakan dan sia-siakan peluang mempertajam kekuatan yang kamu punyai. Wahai beberapa pencari kerja pertama, jangan putus asa: periode depanmu berada di pelupuk mata!

Hidupmu yang saat ini berasa demikian berlainan dibanding masa lampau waktu tetap menjadi mahasiswa. Bila dahulu kamu terlatih habiskan siang atau malam untuk menulis dan menyelesaikan laporan, mendadak tidak ada kembali keharusan yang perlu selekasnya kamu selesaikan. Tidak perlu bolak-balik universitas dan kos untuk memburu dosen pembina, apa lagi bersesak-sesakan pada tempat fotokopian.

Kamu yang kembali pada rumah sesudah kuliah di tanah rantau pun tidak dapat segampang dahulu berganti sapa dan habiskan waktu sama mereka yang dekat denganmu. Hari-harimu tanpa beban, tetapi tanpa rekan.

Selaku makhluk yang sekian tahun terlatih dengan kehidupan penuh pekerjaan dan deadline, kebebasan berasa ganjil. Kamu juga gatal untuk mengincar tanggung jawab baru. Tidak main-main, nyaris setiap hari jari-jarimu menari di atas keyboard netbook untuk cari peluang kerja yang kamu pikir prospektif. Kotak surat elektronik sampai komunitas alumni kamu akses tiap hari, berharap-harap ada informasi mengenai peluang kerja yang landing didalamnya.

Persetan dengan Passion. Realistis Saja, Saat Ini Kita Lagi Butuh Uang

Salah satunya watak yang terdekat dengan angkatan kita ialah kecondongan mengagung-agungkan spirit. Bahkan juga terkadang spirit dipandang segala hal. Kita yakin jika uang bukan agunan, memburu mimpi jadi satu kewajiban. Ketidakberhasilan bukan dipastikan dari mapan atau tidaknya kamu. Malah tidak berhasil ialah terjerat di kubikel kerja dan kerjakan hal sama sehari-harinya.

Saat sebelum kamu memikir untuk tinggalkan apa yang telah kamu punyai, coba memikir untuk kali ke-2 . Tuntutan hidup yang serba naik ini tuntut kita menjadi sesuai kenyataan. Sebab spirit belum pasti jadi jawaban atas tagihan-tagihan yang perlu dibayarkan. Saat sebelum kamu menyambat terus menerus sebab menganggap tidak berhasil tidak dapat bekerja sesuai dengan spirit, lebih bagus pikirkan beberapa hal ini dahulu.

Spirit dalah hal yang paling memusingkan. Jika kamu dengar kata beberapa motivator populer, semua nampak gampang. Kamu perlu mendapati apa yang kamu gemari, suatu hal yang kamu ikhlas kerjakan berkali-kali kali tanpa jemu. Tetapi faktanya, beberapa orang yang tidak paham apa passion-nya yang sesungguhnya. Suatu hal yang ia kira spirit, menjadi menjemukan dan mendesak di satu waktu jika kamu terus menerus melakukannya.

Lalu apa itu bisa disebutkan spirit? Sebab mendapati spirit itu tidak gampang, dan kamu bahkan juga belum punyai bayang-bayang apa yang pengin kamu kerjakan, kenapa harus berserah pada ketidakjelasan? Walau hidup memang tidak jelas, tetapi jika yang telah ada sekarang ini pantas ditempuh, kenapa harus stop di sini?

Sesaat hidup di dunia terang memerlukan ongkos. Lantas kamu bisa menjadi pengangguran dan kembali memberatkan orangtua. Dahulu kamu depresi sebab pekerjaan, sekarang kamu depresi sebab tidak punyai pekerjaan. Yang mana menurutmu lebih bagus?

Budayakan Curhat Biar Waras! Meski Kadang Nggak Dapat Penyelesaian, yang Penting Jangan Dipendam

Sharing atau curah hati ialah hal yang wajar dijalani oleh mereka yang sedang dirundung bingung. Keluhan mengenai cinta atau pekerjaan terkadang perlu untuk disampaikan dengan seorang yang kamu yakin. “Ngapain sich sharing semua? Toh tidak akan mengakhiri permasalahan! Permasalahan itu dituntaskan, tidak untuk dikisahkan~” kata mereka. Walau sebenarnya yang dicari dari meluapkan isi hati ialah bukan mengenai permasalahan bisa teratasi atau mungkin tidak, tetapi mengenai kelegaan hati sesudahnya.

Sekuat apa saja seorang, berat untuknya untuk merendam permasalahan sendirian. Terseok-seok membereskan permasalahan individu yang sebenarnya tidak sanggup dia tuntaskan sendiri. Merendam hati tidak ubahnya simpan bom saat yang kelak akan meledak tidak tersangka. Sebaiknya bila kamu melepaskan gengsi dan rasa malu sesaat dengan meluapkan permasalahan atau keluhanmu pada sahabat yang kamu yakin. Karena beberapa dari kamu yang malas bercerita permasalahan karena hanya takut masalahmu dibeber pada beberapa orang. Coba untuk memikir positif jika tidak seluruh orang punya niat jahat.

Kemungkinan kamu kerap berasa jika sesungguhnya tanpa sharing juga kamu sudah mengetahui jawabnya. Mengenai cara apa yang semestinya kamu mainkan, kamu telah lebih tahu mengenai itu. Terkadang, jalan keluar bukan salah satu yang kamu mencari dari gelaran meluapkan isi hati, ada sesuatu hal yang lebih bernilai dari itu, yaitu kelegaan hati. Bukan jalan keluar, tetapi sebatas bercerita permasalahan yang mengendap dan memberatkanmu sejauh ini.

Sejauh ini kemungkinan kamu berasa begitu pintar hingga berasa jika kamu selalu sanggup mengakhiri masalahmu. Kamu tidak perlu seseorang untuk mengakhirinya. Walau sebenarnya dengan sharing, kamu dapat mendapatkan pemikiran yang lain mengenai masalahmu. Secara tidak langsung membimbingmu untuk mendapati jalan keluar dari masalahmu. Bisa saja, apa yang kamu berpikir mengenai masalahmu sejauh ini salah besar. Kamu tidak pernah tahu, saat sebelum kamu berceritanya. Sharing tidak ubahnya berganti pemikiran.

Untuk Diriku yang Pernah Melakukan Kesalahan Besar, Mari Bangkit dan Menyambut Masa Depan

Surat pendek ini menyengaja kutuliskan untukmu selaku bahan refleksi atas masa lampau. Juga supaya kamu dapat maafkan semua kekeliruan yang pernah dibikin oleh raga ini. Kita ini ialah manusia, cukup lumrah rasanya bila satu-dua kali salah pernah terbentuk. Kamu pasti tahu malah berikut kebun kita untuk belajar. Sekalian pelecut agar kita tabah memandang hari esok dengan gagah berani.

Kita pernah melakukan perbuatan salah. Kita pernah sakiti mereka yang mengasihi kita, tutup pintu untuk kasih ikhlas mereka. Sampai saat ini, tindakan itu masih tinggalkan rasa pahit di lidah dan rasa bersalah. Walau seseorang telah maafkan, diri ini masih usaha merelakan.

Maukah kamu belajar lebih keras untuk maafkan kekeliruan lalu yang sudah kamu lakukan? Supaya hati ini kembali mempunyai ruangan lega dan siap untuk berusaha.

Entahlah telah berapakah kekeliruan yang pernah kamu cipta semenjak pertamanya kali kamu menginjak dunia. Ya, wujud kekeliruan yang menyengaja atau tidak menyengaja kamu kerjakan tentu ada beberapa banyaknya. Saya memahami jika sebenar-benarnya manusia tentu lumrah jika kita pernah lakukan salah. Tetapi, maukah kamu sekali ini merenungi kealpaanmu lebih dalam? Kekeliruan yang kemungkinan tanpa diakui sukses menggurat cedera di hati sendiri atau hati punya manusia yang lain.

Telah berapakah umurmu saat membaca surat ini? Ah, saya tahu, tentu saat sedang mencapai kepala dua. Pas sekali rasanya surat ini kamu baca saat ini. Umurmu sekarang ini ialah periode di mana kamu sedang gaungr-gemarnya menyerah pada ego. Masih berjiwa muda dan haus rintangan kamu buat jadi argumen hingga biasanya berasa paling betul dan malas buka telinga pada pengucapan orangtua. Apa kamu berasa apa yang kamu kerjakan itu ialah perlakuan yang betul? Apa kamu pernah menempatkan diri selaku orang-tua yang perkataannya kerap kamu mengenai juga malas kamu dengar?

Sekelumit Ceritaku tentang Ibu, Betapa Beliau Rela Banting Tulang Demi Keluarga

Dahulu saya kerap menyambat karena Ibu tidak punyai beberapa waktu untuk anaknya. Selaku ibu rumah-tangga sekalian wanita bekerja, ibu memang lumayan kewalahan membagi waktunya. Beliau berada di kantor semenjak pagi sampai sore hari. Kadang-kadang bisa porsi lembur, terkadang membuat baru dapat pulang ke rumah waktu mendekati malam.

Sering, saya iri dengan teman-temanku. Mereka yang umum pulang sekolah dijemput ibunya, dipersiapkan makan siang, bahkan juga didampingi kerjakan pekerjaan rumah. Ya, saat itu saya masih begitu kecil untuk pahami. Jika opsi ibu untuk bekerja terang punyai argumen kuat dibaliknya. Bukan hanya untuk renjana atau cita-citanya, ibu bekerja karena pengin menolong menyokong keuangan keluarga. Seperti harus berperanan ganda, ibu berusaha untuk dapat jalankan ke-2 nya.

“Ah Ibu, maafkan anakmu yang dahulu sempat menyalahkan opsimu. Saya yang dahulu pernah salah memandang Ibu, sekarang pahami begitu besarnya perjuanganmu bagiku.”

Saya sempat memang kecewa, bahkan juga geram waktu Ibu tidak dapat temaniku di dalam rumah. Tidak dapat mengajariku kerjakan PR dari sekolah, tidak dapat mengolahkan makanan bagiku makan siang, atau memarahiku karena saya tidak ingin tidur siang.

Tetapi tidakkah saya sesungguhnya tidak tahu apa-apa? Saya tidak tahu jika hati Ibu sebenarnya terluka. Ibu juga berduka karena tidak dapat setiap waktu mengikuti buah hatinya. Melihat anaknya berkembang dewasa sehari-harinya. Melepaskan bermacam peristiwa bernilai yang pasti tidak dapat diulangi demikian saja.

Opsi Ibu untuk jadi ibu rumah-tangga sekalian wanita karyawan bukanlah tanpa alasan masak. Ayah selaku kepala keluarga terang tidak pernah memaksakan. Ibu dikasih kebebasan seutuhnya untuk pilih, apa cukup jadi ibu rumah-tangga saja, atau pilih peranan ganda selaku wanita karyawan yang menolong menyokong keuangan keluarga.

Tak Perlu Ragu atau Malu untuk Melanjutkan Usaha Orang Tuamu. Selagi Halal, Kenapa Tidak?

Masuk umur dewasa, tanggung jawabmu juga makin besar. Semua harapan yang pernah kamu usahakan rupanya harus berbeda keseluruhan. Ya, kamu yang semula pengin memperlihatkan kemandirian dengan bekerja di perusahaan mimpi atau merinstis usaha sendiri, sekarang harus meniadakan gagasan itu dari kepalamu.

Usaha orangtua yang telah semenjak dulu berdiri memang memerlukan tangan-tangan baru untuk mengurusinya. Ke-2 orang tuamu yang menjadi pendorongnya telah tidak lagi mampu karena terhambat umur. Kamu kemungkinan berasa sangsi. Entahlah takut tidak dapat mengemban amanah, atau bahkan juga malu hadapi tanggapan miring dari beberapa orang di sekelilingmu.

Tidak perlu sangsi dengan keputusanmu sebab sebagus-baik anak ialah mereka yang jalankan instruksi orang tuanya. Supaya langkahmu makin oke, 7 argumen dalam artikel ini bisa saja akan memperkuat niatmu!

Orang tuamu yang dahulu demikian gigih mengurusi upayanya dari 0, sekarang cuman dapat diam diri di dalam rumah. Mereka semakin banyak memantau upayanya dari jarak jauh. Keterbatasan itu membuat upayanya tidak selancar dahulu. Bahkan juga, tiap bulan kamu kerap dengarkan laporan penghasilan upayanya yang tetap turun.

Kamu pasti tahu benar jika usaha itu mulai dirintis ke-2 orang tuamu waktu kamu masih kecil. Tidak dapat disangkal, usaha itu juga yang jadikan keluargamu dapat hidup berkecukupan sampai ini hari. Kecuali memberi kehidupan yang pantas, usaha itu juga yang membuat kamu dapat mengenyam pengajaran sampai perguruan tinggi.

Bisa saja tak pernah sekali juga orangtua memaksakanmu untuk mengikut tapak jejaknya melanjutkan usaha keluarga. Orangtua tentulah cukup arif untuk memberimu kebebasan dalam tentukan jalan hidup. Tetapi kemungkinan, mereka cuman pengin tawarkan satu opsi.

Ya, opsi yang bila kamu iyakan akan membuat ke-2 orang tuamu berasa mengagumkan senang. Mereka juga mengharap dapat menuntunmu memperdalam usaha keluarga itu, sebab bila tidak, kemungkinan besar usaha itu malah akan ditutup.

Tak Perlu Ragu atau Malu untuk Melanjutkan Usaha Orang Tuamu. Selagi Halal, Kenapa Tidak?

Masuk umur dewasa, tanggung jawabmu juga makin besar. Semua harapan yang pernah kamu usahakan rupanya harus berbeda keseluruhan. Ya, kamu yang semula pengin memperlihatkan kemandirian dengan bekerja di perusahaan mimpi atau merinstis usaha sendiri, sekarang harus meniadakan gagasan itu dari kepalamu.

Usaha orangtua yang telah semenjak dulu berdiri memang memerlukan tangan-tangan baru untuk mengurusinya. Ke-2 orang tuamu yang menjadi pendorongnya telah tidak lagi mampu karena terhambat umur. Kamu kemungkinan berasa sangsi. Entahlah takut tidak dapat mengemban amanah, atau bahkan juga malu hadapi tanggapan miring dari beberapa orang di sekelilingmu.

Tidak perlu sangsi dengan keputusanmu sebab sebagus-baik anak ialah mereka yang jalankan instruksi orang tuanya. Supaya langkahmu makin oke, 7 argumen dalam artikel ini bisa saja akan memperkuat niatmu!

Orang tuamu yang dahulu demikian gigih mengurusi upayanya dari 0, sekarang cuman dapat diam diri di dalam rumah. Mereka semakin banyak memantau upayanya dari jarak jauh. Keterbatasan itu membuat upayanya tidak selancar dahulu. Bahkan juga, tiap bulan kamu kerap dengarkan laporan penghasilan upayanya yang tetap turun.

Kamu pasti tahu benar jika usaha itu mulai dirintis ke-2 orang tuamu waktu kamu masih kecil. Tidak dapat disangkal, usaha itu juga yang jadikan keluargamu dapat hidup berkecukupan sampai ini hari. Kecuali memberi kehidupan yang pantas, usaha itu juga yang membuat kamu dapat mengenyam pengajaran sampai perguruan tinggi.

Bisa saja tak pernah sekali juga orangtua memaksakanmu untuk mengikut tapak jejaknya melanjutkan usaha keluarga. Orangtua tentulah cukup arif untuk memberimu kebebasan dalam tentukan jalan hidup. Tetapi kemungkinan, mereka cuman pengin tawarkan satu opsi.

Ya, opsi yang bila kamu iyakan akan membuat ke-2 orang tuamu berasa mengagumkan senang. Mereka juga mengharap dapat menuntunmu memperdalam usaha keluarga itu, sebab bila tidak, kemungkinan besar usaha itu malah akan ditutup.

Surat Kecil untuk Tuhan, Tentang Saya yang Terkadang (Masih) Cemas Akan Kehidupan

Tentulah Kamu sedang repot sekarang ini. Sedang mengawasi kehidupan yang berlangsung di belahan bumi yang lain ‘kah? Atau sedang memperhatikan dan menertawai tingkah polah manusia? Ini saya Tuhan, satu dari miliaran ciptaan-Mu, tetapi kemungkinan nomor satu dalam soal kemauan berkeluh kesah. Maaf bila sampai saat ini saya terhitung kelompok yang tidak sadar diri. Cuman tiba pada-Mu saat saya sedang memerlukan suatu hal.sebuah hal.

Maaf bila sejauh ini saya kerap mengabaikan-Mu sampai kerap bermalasan untuk ke rumah-Mu. Tetapi dengan semua kerendahan hati, bersediakah Kamu dengarkan semua keluh kesahku ini?

Seandainya saya selalu tahu mengapa rasa takut terkadang menangkapku. Tetapi saya belum pasti punyai argumen untuk menerangkan ketakutan itu. Hati itu datang demikian saja, tunda berbahagia. Saya lebih kalut bila tidak tahu apa penyebabnya.

Kemungkinan saya takut sebab menganggap kesepian. Tidak, tidak cuma sebab sekarang ini saya sedang melajang. Lebih dari itu, saya betul-betul berasa kehilangan rekan-rekan. Di umurku yang saat ini, teman dekat memang tiba dan pergi. Tetapi bila ada dari sisi juga, saya masih berasa asing dan sendiri.

Tolong, Tuhan, peringatkan saya jika sesungguhnya Kau teman dekat terhebatku. Saya tidak pernah sendirian, sebab kau pahami saya dan selalu dengarkan. Saya minta, peringatkan saya selalu untuk dekat kepadaMu. Agar saya selalu bertumpu dan share narasi dengan-Mu, hingga saya tidak perlu kembali berasa kesepian semacam ini.

Pagi hari ini saya buka mata selanjutnya berasa kuatir mengagumkan. Saya tidak paham, apa memang rasa ini menyengaja Kau kirimkan padaku agar saya kembali mengingat-Mu? Yang pasti saya mulai mencemaskan nasib pekerjaanku. Di umurku ini saya sedang belingsatan cari pekerjaan yang cocok bagiku. Bagaimana dapat saya berusaha di lautan manusia yang sama memerlukan lowongan? Saya kerap menyangsikan kekuatan bahkan juga berasa rendah diri dibikinnya.

Mataku terbuka jika berikut hidup yang sesungguhnya. Jika dunia ini ibarat rimba belantara dan saya harus sanggup berusaha sampai titik darah penghabisan agar dapat bertahan. Tuhan, bersediakah kau cukupkan keberanian yang ada dalam diriku? Agar saya dapat dengan optimal manfaatkan bakat yang Kau beri padaku. Saya yakin, Kamu memperlengkapi tiap manusia dengan kekuatannya semasing.

Dunia Kerja yang “Nggak Nyambung” dengan Jurusan Kuliah itu Berkah. Bukan Musibah!

Ada selalu harapan jika kita perlu jalani rute profesi yang sesuai background pengajaran. Bagaimana tidak? Masuk kuliah telah sulit, keluarnya lebih sulit, mahal dan habiskan waktu, juga. Di lain sisi, bukan mustahil kita diterima pada tempat kerja yang tidak pernah kita pikirkan awalnya. Bukan mustahil kita, yang sepanjang kuliah selalu berasa salah jalur, pada akhirnya kembali menekuni renjanamu yang asli. Gelar Sarjana Ekonomi agar berada di ijazah saja. Untuk menyambung hidup, kamu cenderung pilih bekerja lain dengan jalurmu.

Kemungkinan opsi pekerjaan yang tidak sesuai dengan jalur ini akan membuat sebagian orang paling dekatmu meningkatkan alis. Tetapi optimis mereka, pekerjaan yang tidak sesuai jalur pengajaran kita malah menjadi satu karunia!

Kemungkinan kamu seorang Sarjana Kimia yang mahir dalam merekayasa reaksi senyawa, tetapi saat ini malah bekerja di bagian pendesain. Kemungkinan kamu seorang Sarjana Politik, tetapi malahan menekuni di bagian advertensi. Tidakkah sepanjang bekerja di beberapa tempat itu kamu telah pelajari banyak hal baru?

Dengan kerja di firma design, kamu tidak perlu mengambil les private untuk meningkatkan talentamu dalam menggambar. Dengan jadi ad man, kamu tak perlu kerja keras cari tutor untuk meningkatkan kreasimu. Kamu telah mempunyai atasan yang selalu siap mentransfer ilmunya dengan suka-rela. Pengetahuanmu juga tidak akan mentok di situ-situ saja, tetapi berkembang selebar-luasnya. Sisi terbaik? Semua pengetahuan ini dapat kamu peroleh gratis dengan dibayar!

Pekerjaan yang “tidak menyambung” dengan jalur kuliahmu ialah karunia, sebab kamu memakainya untuk mempertajam bakat dan minat yang tidak sempat kamu bangun dengan optimal di tingkatan perkuliahan. Punyai banyak kekuatan dan ketrampilan ialah sinyal jika kamu istimewa.

Misalkan, kemungkinan kamu ialah Sarjana Tehnik Industri, tetapi kamu selalu punyai minat di bagian usaha. Bekerja di bank dan mengurus credit nasabah bisa dibuktikan demikian menolong mempertajam insting usahamu. Tidak boleh bingung bila nanti kamu akan disodori pekerjaan yang kamu harapkan sejauh ini — tidakkah kamu ialah individu dengan minat dan bakat yang berbagai macam dan telah masak?

error: Content is protected !!